Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Mei 2011

Bayi Kuning? Hati-hati!

M emang, jika cepat tertangani, kuning pada bayi tak perlu dicemaskan. Apa saja yang harus kita waspadai?

"Bayinya belum bisa pulang karena kuning." Begitu, kan, yang sering kita dengar tentang bayi yang baru lahir.
Bayi kuning, ada dua macam. Yaitu yang faali (fisiologis) dan patologis. Yang patologis adalah yang dapat menganggu tumbuh kembang bayi di kemudian hari. "Yang faali disebut juga kuning yang normal. Umumnya terjadi di hari kedua atau ketiga setelah kelahiran hingga 7 atau 14 hari. Walaupun secara faali, tetapi perlu diwaspadai. Karena kuning yang faali mungkin mempunyai latar belakang patologis," ungkap Prof. Dr. dr. Nartono Kadri, Sp.A(K) , dari Bag. Perinatologi, Ilmu Kesehatan Anak Fak. Kedokteran UI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Selain itu, bayi yang minum ASI dapat juga terlihat kuning pada minggu pertama dan kedua, yang berangsur-angsur akan hilang sendiri. "Ini gejala biasa. Di dalam ASI ada komponen yang mempengaruhi timbulnya kuning pada bayi. Tidak berbahaya, kok," jelas Nartono. Kendati demikian, lanjutnya, orangtua harus tetap waspada. Terutama kalau si bayi sedang dalam keadaan sakit yang berkaitan dengan acidosis (penyakit yang berhubungan dengan menurunnya kadar pH darah). Misalnya, sesak napas atau mencret berat. "Sebab, kadar bilirubin bebas bisa meningkat."
Nah, berikut ini sejumlah hal mencurigakan yang harus diwaspadai.
* Bila kuningnya muncul cepat sekali. Misalnya, pagi lahir, sorenya sudah kuning.
* Peningkatan kadar kuning cepat sekali.
* Lamanya kuning berlangsung. Bila kuningnya hilang sangat lambat, misalnya sesudah 2 minggu masih kuning terus, waspadalah.
Lalu apa yang harus dilakukan jika hal itu terjadi? "Segera bawa ke dokter!" pesan Nartono.
PENYEBAB
Cara termudah untuk mendeteksi bayi menderita kuning atau tidak, sebetulnya tak terlampau sulit. "Lihat di bagian putih mata bayi saat ia menyusu. Kalau kuning, akan terlihat jelas di matanya!"
Kuning pada bayi timbul karena adanya timbunan bilirubin (zat/komponen yang berasal dari pemecahan hemoglobin dalam sel darah merah) di bawah kulit. Sebab itulah kulit si bayi terlihat kuning.
Pada saat masih dalam kandungan, janin membutuhkan sel darah merah yang sangat banyak karena paru-parunya belum berfungsi. Nah, sel darah merahlah yang bertugas mengangkut oksigen dan nutrien dari ibu ke bayi melalui plasenta. "Sesudah ia lahir, parunya sudah berfungsi, sehingga sel darah merah ini tidak dibutuhkan lagi dan dihancurkan. Salah satu hasil pemecahan itu adalah bilirubin."
Bilirubin alias pecahan hemoglobin ini pun bermacam-macam: indirect, direct , dan bebas. Yang indirect atau yang belum diolah, yaitu bilirubin yang terikat albumin sebagai zat pengangkut, akan dibawa ke hati untuk diproses menjadi bilirubin direct . Bilirubin direct ini akhirnya disimpan di kantong empedu.
Kadang tidak semua hasil pemecahan hemoglobin ini bisa diikat oleh albumin dan dibawa ke hati. Sebagian tidak terangkut dan disebut bilirubin bebas. Justru bilirubin inilah yang berbahaya. "Karena ia bisa gentayangan ke mana-mana. Terutama kalau ia masuk ke otak, tak bisa dilepas lagi." Jika sampai masuk ke otak, "Akan menimbulkan penyakit yang disebut kern ikterus atau timbunan bilirubin di dasar otak," jelas Nartono.
Namun oleh suatu keadaan tertentu, bilirubin indirect pun bisa pecah lagi menjadi bilirubin bebas. Yaitu jika si anak dalam keadaan sakit atau mencret, yang menyebabkan ia kehilangan banyak cairan. Kekurangan cairan (juga oksigen) akan mengakibatkan lepasnya albumin sehingga ia menjadi bilirubin bebas yang membahayakan.
Lantas di mana terjadinya pemecahan sel darah merah? Ia bisa terjadi karena adanya tabrakan-tabrakan di saluran pembuluh darah, di sel-sel hati, atau di sel limfa. Kadang pemecahan sel darah merah terjadi sangat berlebihan sehingga meningkatkan kadar bilirubin. Ini biasanya disebabkan beberapa hal:
1. Karena hemolisis (hancurnya sel darah merah). Ini terjadi bila:
* Adanya ketidakcocokan darah ibu dan bayi (A,B,O atau rhesus)
* Kekurangan enzym, yang sering dikenal dengan G-6-PD
* Adanya kelainan sel darah merahnya sendiri
Pada ketidakcocokan golongan darah, misalnya bila si ibu berdarah O, sedangkan si bayi berdarah A atau B. "Pada saat masih dalam kandungan, darah ibu dan janin akan saling mengalir lewat plasenta. Kalau darah si janin tidak cocok dengan darah ibunya, maka si ibu akan membentuk zat antibodinya (zat penangkis). Zat ini sedikit banyak akan mengalir lagi ke tubuh si janin melalui plasenta. Akibatnya, zat antibodi ini akan menghancurkan sel darah merah si bayi, sehingga meningkatkan kadar bilirubinnya."
Sedangkan untuk ketidakcocokan golongan darah akibat rhesus, biasanya terjadi bila ibu golongan darah rhesus negatip dan janin rhesus positip.
2. Karena obat-obatan
Ada beberapa macam obat, misalnya yang mengandung sulfa, bisa menghancurkan sel darah merah. Karena itu, berhati-hatilah memberi obat pada bayi. Konsultasikan pada dokter sebelumnya.
3. Karena infeksi
Bisa infeksi saat bayi dalam kandungan atau infeksi saat di jalan lahir. Misalnya jalan lahir ibunya kotor. Atau infeksi sesudah lahir, semisal karena alat-alat bayi tidak steril sehingga racunnya menghancurkan sel darah merah.
Selain karena pemecahan sel darah merah yang berlebihan, peningkatan kadar bilirubin bisa juga berasal dari penyumbatan. Yaitu bila saluran empedunya tersumbat, sehingga bilirubinnya tidak bisa dikeluarkan. Atau juga bila hatinya membengkak (hepatitis), sehingga pipa-pipanya tersumbat. Umumnya kuning yang disebabkan oleh penyumbatan terlihat sesudah minggu kedua atau lebih.
Bagaimana membedakan kuning pada bayi karena bilirubin yang indirect (pemecahan yang belebihan) atau direct (penyumbatan)? "Lihat dari kotorannya. Bila kotorannya kuning, biasanya karena pemecahan. Tapi yang disebabkan penyumbatan, kotorannya akan terlihat putih seperti dempul. Hal ini karena empedunya tidak bisa masuk usus, sehingga kotoran tidak bisa diolah dan menyebabkan berwarna putih."
AKIBAT DAN TERAPI
Untuk bilirubin yang berasal dari pemecahan yang berlebihan, asalkan cepat ditangani biasanya dapat cepat sembuh. "Jika terlambat ditangani, bisa menjadi kern ikterus atau meninggal." Bayi pengidap kern ikterus, lanjut Nartono, akan mengalami kelainan perkembangan. Yakni berupa gangguan susunan saraf pusat atau panca indra. Entah itu berupa kelainan motorik, gangguan perkembangan mental, tuli, lambat bicara, ataupun susah belajar. "Tergantung berapa luas dan berapa banyak timbunannya. Serta di bagian otak sebelah mana ia tertimbun."
Pada bayi dengan kasus seperti ini, salah satu tindakan yang dilakukan adalah memberinya cukup cairan. "Bila kadar bilirubinnya masih ringan, cukup dijaga agar cairan tubuh tidak berkurang. Tiga atau empat jam sekali, bayi harus diberi susu."
Terapi lain adalah yang disebut sinar biru (blue light therapy) . "Bisa juga dengan bantuan sinar matahari. Tapi jangan dijemur secara langsung di bawah matahari. Cukup asal terkena sinarnya saja."
Namun jika kadar kuning tinggi sekali dan amat cepat kenaikannya, dokter akan melakukan transfusi tukar. Darah bayi yang sudah mengandung bilirubin dikeluarkan, diganti dengan darah baru.
Sedangkan untuk bilirubin yang berasal dari penyumbatan, bila tidak segera ditangani akan menyebabkan kerusakan hati. "Hatinya bisa mengecil (sirosis) dan mengeras. Untuk ini, dokter akan membedah tempat yang tersumbat tadi," jelas Nartono.
Ia juga mengingatkan, untuk bayi kuning yang disebabkan kekurangan enzym yang disebut G-6-PD, sebaiknya tidak menggunakan kapur barus untuk baju-baju bayi. "Memang tidak semua bayi akan menjadi kuning bila pakaiannya terkena kapur barus. Tapi dalam kasus bayi yang G-6-PD ini, enzym di dalam darah merah si bayi kurang, sehingga sel darah merah mudah pecah dan menjadi bilirubin karena dampak kapur barus."

Gangguan Prostat dan pencegahan

Seiring pertambahan usia, kelenjar prostat pada pria biasanya akan membesar. Gangguan lain seperti kanker prostat pun mengintai. Bagaimana mencegah dan mengatasinya?
Gejala Mirip
Selain pembesaran prostat jinak atau BPH, gangguan atau penyakit prostat lainnya adalah kanker prostat dan prostatitis (radang prostat). Baik BPH, kanker prostat, dan prostatitis memiliki gejala yang hampir mirip, antara lain sering kencing di malam hari, pancaran kencing melemah, kencing sering kali harus mengejan dan terputus-putus, akhir kencing tidak tuntas, kencing menetes, dan lain-lainnya.
Meski mirip, gejala pembesaran prostat dan kanker prostat tidak menimbulkan rasa sakit, berbeda dengan prostatitis yang lebih sering menimbulkan rasa sakit dan terasa cenut-cenut  di daerah kelamin pria. Prostatitis terasa sakit dan intensitasnya tergantung akut atau kronisnya penyakit. Kalau akut, sakitnya luar baisa, Kalau kronik terus terasa seperti pegal di derah kelamin.
Penyebab pasti kanker prostat belum diketahui sampai saat ini, namun diketahui ada beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kanker prostat. Beberapa faktor risiko kanker prostat antara lain usia di atas usia 50 tahun, memiliki riwayat kanker prostat di dalam keluarga, diet tinggi lemak dan rendah serat, serta obesitas. “Meski tidak diketahui secara pasti, secara umum konsumsi daging merah yang berlebihan juga meningkatkan risiko kanker prostat. Begitu juga gorengan yang tinggi kolesterol,” jelas Marto. Kebanyakan, pertumbuhan kanker prostat cukup lambat dan tanpa gejala pada stadium dini.
Penyebab prostatitis atau radang prostat dibagi menjadi bakterial dan nonbakterial. Penyebab bakterial adalah bakteri. “Sementara penyebab nonbakterial bisa karena makanan atau kimia, meskipun jarang ditemukan penyebab persisnya,” kata Marto. Prostatitis biasanya menyerang pria yang agak muda, mulai usia 20 – 40 tahun. Sementara pria usia 40 tahun ke atas cenderung mengalami BPH dan pria berusia 60 - 70 tahun cenderung terkena kanker prostat. “Tetapi, tidak ada bukti bahwa prostatitis ada kaitannya dengan kanker, juga tidak ada bukti bahwa BPH ada kaitannya dengan kanker prostat,” lanjutnya. Prostatitis pengobatan dengan antibiotik.
Dual Terapi
Penanganan pembesaran prostat jinak bisa dilakukan dengan terapi obat atau bedah/operasi. Seandainya keluhannya sangat ringan dan hasil pemeriksaan lainnya menunjukkan hasil baik, mungkin saja pasien hanya diberikan advis untuk mengubah atau menjalankan pola makan atau gaya hidup yang baik. “Akan tetapi, kalau keluhan yang muncul lebih berat dan pasien merasa kualitas hidupnya terganggu, biasanya dokter akan memberikan pengobatan dual terapi,” jelas  Marto. Dual terapi adalah pemberian obat jenis  alfa blocker  dan alfa reductase inhibitor . Alfa blocker  untuk merelaksasikan otot-otot di prostat sehingga saluran bisa lebih lancar, sementara alfa reductase inhibitor bisa mengecilkan prostat.
Seandainya dual terapi ini tidak juga mampu memberikan kemanfaatan maksimal, barulah pasien dianjurkan untuk menjalani operasi. “Atau jika kondisi pasien tiba-tiba menurun dan kencingnya mampat. Kalau ini yang terjadi, biasanya perlu operasi pengerokan prostat. Prinsip operasi ini adalah mengerok bagian tengah dari prostat untuk melebarkan saluran uretra,” lanjutnya.
Penanganan kanker prostat tergantung stadium, usia pasien, dan kondisi umum pasien. Pengobatan dapat merupakan salah satu atau kombinasi dari operasi, radioterapi, kemoterapi dan terapi hormon. “Jika kanker prostat ditemukan pada stadium dini, pasien bisa diberikan pilihan untuk operasi pengangkatan prostat atau radioterapi untuk menghilangkan bibit kanker prostatnya. Masalahnya, di Indonesia, lebih dari 50 persen kanker prostat biasanya ditemukan bukan pada stadium dini,” kata Marto. Padahal, semakin dini kanker prostat ditemukan dan diobati dengan tepat, maka kemungkinan untuk sembuh akan semakin besar.


Kekuatan Tomat
Pemeriksaan dan deteksi dini akan sangat membantu pencegahan kanker prostat. Pemeriksaannya meliputi konsutasi ke spesialis urologi, colok dubur, USG, dan prostat spesifik antigen (PSA) atau tumor marker. PSA adalah protein di darah yang bisa naik jika terjadi pembesaran darah yang bermakna atau jika ada keganasan di prostat.
Namun, Marto mengingatkan, hasil PSA yang meningkat belum pasti karena kanker prostat. Pembesaran jinak prostat (BPH) dan infeksi saluran kencing atau radang prostat (prostatitis) juga bisa meningkatkan PSA. “Bagi kelompok risiko tinggi (pria dengan faktor risiko), sebaiknya pemeriksaan dilakukan sejak usia 40 tahun atau sesuai rekomendasi dokter spesialis urologi,” tambah Marto.
Selain itu, untuk mencegah gangguan kelenjar prostat, gaya hidup dan pola makan sehat juga dianjurkan. Misalnya, banyak mengonsumsi makanan berserat seperti buah-buahan dan sayuran. Tomat juga disebut-sebut bagus dikonsumsi karena banyak mengandung lycopene. “Obat dual terapi juga bagus untuk pencegahan, karena bisa mengurangi dan mencegah risiko gangguan prostat, termasuk pembesaran dan kanker prostat,” kata Marto.
 Hasto Prianggoro

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service